Pelayan Tuhan

Juni 20, 2007

“Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.” Maz 51:15

Menjadi pelayan Tuhan, adalah suatu panggilan hidup yang sangat mulia. Pasti hal itu adalah yang paling mulia bila dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan lain di dunia ini. Sebab pekerjaan seorang pelayan Tuhan adalah membawa orang-orang yang berdosa kepada pertobatan dan keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Tetapi untuk menjadi seorang yang melayani Tuhan, diperlukan proses pembenaran yang dikerjakan oleh Tuhan di dalam hidup orang yang mau menjadi pelayan Tuhan. Tanpa melalui proses tersebut tidak mungkin seseorang dapat melayani Tuhan. Firman Tuhan yang kita baca Maz. 51:11-15 menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan memproses orang yang mau melayani Tuhan.

  • Memohon ampun atas segala dosa-dosanya dan kesalahannya dan memohon pengududsan dan perkenan Allah (Maz.51:11) Pengampunan dan pengudusan itu hanya dapat diberikan oleh Yesus. Yaitu melalui pengorbananNya di kayu salib.
  • Memohon agar Allah memperbaharui hatinya. Yang berarti ia minta pertolongan Tuhan untuk dapat meninggalkan hidup yang lama dan masuk ke dalam hidup yang baru (Maz. 51:12b) melalui kehidupan yang baru. Maka ia memiliki damai suka cita dan kuasa di dalam Roh Kudus.
  • Memohon agar Allah meneguhkan Rohnya dalam Iman yang sungguh kepada Kristus (Maz. 51:12c)
  • Memohon agar Allah tidak mengambil Roh Kudus-Nya dari dirinya yang artinya agar hidup tetap ada dalam pengurapan Roh Kudus. Agar Roh Kudus tetap tinggal di dalam dirinya dan memimpin setiap langkah hidupnya. (Maz. 51:13)
  • Memohon agar Allah senantiasa membangkitkan kegirangan dan suka cita, karena keselamatan yang telah diterimanya dari Tuhan Yesus (Maz. 51:14a) Ketika hidup seseorang selalu mengandalkan Tuhan dan pimpinan Roh Kudus-Nya, maka suka cita itu selalu ia miliki.

Seperti Thomas Wolsey dijuluki Juru Pisah Eropa. Menjelang kematiannya ia menceritakan tentang hidupnya yang menyedihkan. Wolsey orang yang dihormati pada zaman pemerintahan Henry VIII di Perancis.

Awalnya, ia adalah seorang pendeta bagi keluarga raja. Selama menjadi pendeta keluarga raja ia mendapat banyak penghargaan. Disamping itu Wolsey berhasil mendapat gelar dalam keuskupan dan akhirnya ia dinobatkan sebagai uskup besar di York, lalu ia menjadi ketua kedutaan tinggi dan perdana mentri dan selam aia menjabat ia membagi daerah-daerah di eropa. Untuk itu Wolsey dijuluki juru pisah eropa.

Karena tugasnya yang begitu berjasa kepada kerajaan maka Pangeran Charles V dan Raja Perancis yaitu Francis I memberikan penghargaan yang begitu besar tidak menjadikan Wolsey rendah hati. Sebagai seorang rohaniawan, malah dengan segala keberhasilannya, Wolsey sangat sombong. Dalam hidupnya sehari-hari ia dibantu oleh sekitar 800 orang pembantu, diantara pembantunya terdapat sepuluh orang pembeesar, lima belas orang bangsawan dan empat puluh orang terkenal di masa itu.

Ternyata sukses dan keberhasilannya ia mulai keluar dari sikap-sikap dan perilaku yang tidak mau melayani Tuhan seperti pada saat ia dipanggul dulu untuk melayani Tuhan dengan kesungguhan, dan Wosley termasuk manusia rapuh yang takabur karena keberhasilannya.

Yang dari seorang pelayan Tuhan atau seorang pendeta lalu diberi kekuasaan dan penghargaan oleh raja, kemudian Wolsey menjadi sangat angkuh dan ambisius. Ia jatuh ke dalam lembah memalukan karena ambisinya menjadi paus dan perlawanannya terhadap kerajaan. Akibatnya Wolsey jatuh sakit dan mati dalam keadaan sengsara.

Sebelum meninggal dunia, Thomas Wolsey sempat melihat kembali sepak terjang hidupnya dan ia sadar bahwa ia telah menyalahgunakan waktu dan talentanya, dan dengan sedih ia mengatakan:

“sudahkan aku melayani Tuhanku dengan rajin seperti aku melayani raja? Aku tidak pernah melayani Tuhan sebab aku hanya melayani raja. Akibatnya aku begitu menderita…”

Pengalaman Wolsey bisa menjadi peringatan agar kita melayani Tuhan saja dan bukan melayani penguasa, diri sendiri atau pun lembaga gereja. Ingat melayani Tuhan dan lembaga gereja bisa tidak sama manakala lembaga gereja lebih mementingkan kemewahan dari pada melayani umat Tuhan yang menderita.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s